Cerita Dibalik Pintu Gebyok Minimalis Jawa yang Wajib Diketahui Generasi Muda

Category : Uncategorized
Cerita Dibalik Pintu Gebyok Minimalis Jawa yang Wajib Diketahui Generasi Mudaby Latedon.Cerita Dibalik Pintu Gebyok Minimalis Jawa yang Wajib Diketahui Generasi MudaCerita Dibalik Pintu Gebyok Minimalis Jawa yang Wajib Diketahui Generasi Muda Gebyok merupakan salah satu hasil kerajinan yang dimiliki Indonesia dan kini telah mendunia. Selain itu, gebyok ternyata memiliki sejarah yang panjang. Semakin kompleks ukiran yang digunakan, semakin memancar nilai filosofis dari gebyok tersebut. Seiring dengan perkembangan jaman, kini gebyok dibuat sedikit lebih modern dengan […]

Cerita Dibalik Pintu Gebyok Minimalis Jawa yang Wajib Diketahui Generasi Muda

Gebyok merupakan salah satu hasil kerajinan yang dimiliki Indonesia dan kini telah mendunia. Selain itu, gebyok ternyata memiliki sejarah yang panjang. Semakin kompleks ukiran yang digunakan, semakin memancar nilai filosofis dari gebyok tersebut. Seiring dengan perkembangan jaman, kini gebyok dibuat sedikit lebih modern dengan ukiran pintu gebyok minimalis. Jika ditarik ke belakang, gebyok sudah ada sejak abad ke-16 di Jepara. Tepatnya pada saat pemerintahan Ratu Kalinyamat di Kudus-Jepara, gebyok merupakan sebuah rumah kayu yang dipenuhi dengan aksen ukiran pada kayunya. Seiring dengan berjalannya waktu, bangunan rumah gebyok menjadi ciri khas rumah adat Kudus-Jepara.

Gebyok memiliki nilai filosifis yang tinggi yaitu bermakna kebijakan manusia. Selain itu, gebyok juga dikenal memiliki pesan spiritual pada pemiliknya. Gebyok Jawa Kuno menegaskan makna bahwa tujuan hidup manusia – sangka paraning dumadi – keharmonisan, kesejahteraan serta kedamaian dengan alam. Selain itu gebyok juga digambarkan sebagai jalan ke surga dan turun naiknya roh nenek moyang (leluhur). Gebyok juga merupakan simbol harmoni dan keseimbangan hidup yang diartikan Swastika. Gebyok juga merupakan simbol regenerasi, keberlangsungan hidup serta kesuburan yang disebut Bung Bambu. Gebyok juga merupakan penggambaran bentuk cinta kasih antara ibu dan anak atau yang dikenal dengan Kala Makara. Ketika Sunan Kudus mulai menyebarkan Agama Islam di tanah Jawa, ia mengenalkan motif ukiran bunga melati. Motif ini menggambarkan bahwa minoritas penganut Agama Islam pada jaman dahulu, diharapkan mampu membawa kedamaian dengan pemeluk Agama lainnya.

 

Sejarah panjang mengenai Gebyok menjadikannya bukan hanya sebuah furniture untuk mempercantik rumah saja. Makna mendalam mengenai sebuah gebyok memberikan keyakinan tersendiri bagi masyarakat Kudus, Jepara khususnya. Gebyok yang kaitannya erat dengan nilai spiritual membawa babak baru. Kini gebyok juga digunakan untuk acara pernikahan atau yang lebih dikenal dengan gebyok manten. Diharapkan dengan adanya gebyok tersebut mampu memberikan berkah kedamaian serta keberlangsungan rumah tangga bagi kedua mempelai. Mengingat bahwa gebyok merupakan suatu warisan leluhur yang patut dilestarikan, penting bagi generasi muda saat ini untuk memahami tentang cerita dibalik gebyok.

Related Posts